Langsung ke konten utama

Postingan

Mengemis Kasih (Raihan)

Tuhan dulu pernah aku menagih simpati Kepada manusia yang alpa jua buta Lalu terheretlah aku di lorong gelisah Luka hati yang berdarah kini jadi kian parah Semalam sudah sampai ke penghujungnya Kisah seribu duka ku harap sudah berlalu Tak ingin lagi ku ulangi kembali Gerak dosa yang menghiris hati Tuhan dosa ku menggunung tinggi Tapi rahmat-Mu melangit luas Harga selautan syukurku Hanyalah setitis nikmat-Mu di bumi Tuhan walau taubat sering ku mungkir Namun pengampunan-Mu tak pernah bertepi Bila selangkah ku rapat pada-Mu Seribu langkah kau rapat padaku Allah ... Ya Allah ...

Sujudku Padamu (Hawari)

Di keheningan malam Ku bersujud kepada-Mu Di perpaduan malam Bermunajat pada-Mu, Tuhan Tuhan ampunkan segala dosa-dosaku Kuharap hanya pada-Mu Engkaulah harapanku Bersimpuh memohon Ampunan-Mu oh Tuhan Ku malu banyak meminta Di atas segala dosaku Kusadari oh, Tuhan Diri ini lemah dan hina Perlukan pimpinan-Mu Di dalam kehidupanku Oh Tuhan layakkah diriku ke Surga-Mu Ku banyak berbuat dosa Lupakan perintah-Mu Menetes air mata Mengenangkan dosa pada-Mu Ku sering lupakan-Mu Ku sering lalai dengan-Mu

Tetap Di Sampingmu

Kamu datang dengan niat baik, Memperbaiki masa lalu Membangun keluarga yang bahagia Mempercayakan aku untuk mendampingimu melewati semua itu Bahagia atas hadirmu adalah anugrah Duka atas hadirmu juga anugrah. Anugrah dari Tuhan agar aku belajar tegar Anugrah dari Tuhan agar aku selalu rasional Anugrah dari Tuhan agar aku memahami kesetiaan Aku tetap di sisimu Hingga kamu lebih baik Aku tetap mendampingimu Hingga seluruh tujuan tercapai Aku hanya akan berpaling Jika amanah itu kamu berikan pada yang lain Aku hanya akan pergi Jika kamu yang memintaku pergi Yang harus kamu tahu, Jikalau akhirnya kamu terpaksa memilih kembali padanya, yang bisa ku lakukan untukmu hanyalah ikhlas. Dari lubuk hati yang paling dalam aku ingin menahanmu, tapi rasionalitas mengatakan itu akan membebanimu. Sehingga, ku wujudkan cintaku dalam situasi itu dengan sebuah ‘keikhlasan’. Asalkan kamu lebih baik bersamanya. Asalkan kamu membangun keluarga yang bahagia bersamanya. Seperti tujua...

Kepada Manusia

Pernah ku titip harap Tapi digantungkannya Tiada kepastian Biaslah kenyataan Pernah kutitip cinta kasih Tapi dihilangkannya Tiada kejujuran Lenyaplah kepercayaan Pernah ku titip nyala semangat Tapi dipadamkannya Tiada lagi daya Jatuhlah seluruh asa Bukan pada tempatnya ku titip harap Bukan pada tempatnya ku titip cinta kasih Bukan pada tempatnya ku titip semangat Tempat yang tepat adalah Dia Ampuni, Tuhan Suralaya, 06 Januari 2016

Cita-Cita dan Angan-Angan

Sama-sama bermimpi Cita-cita dibuat nyata Angan-angan dibiarkan maya Sama-sama berharap Cita-cita diperjuangkan Angan-angan sekedar harapan Sama-sama ingin pintar Cita-cita berpikir dan belajar Angan-angan duduk manis memejam mata Sama-sama ingin kaya Cita-cita banting tulang Angan-angan memanjakan tulang di atas kasur Sama-sama ingin kebahagiaan tertinggi Cita-cita hidup jiwa raga Angan-angan mati dalam hidup Lantas, yang manakah engkau? Nisa Apipah Suralaya, 03 Januari 2016

Langit Kelabu

Bolehlah halilintar menggelegar Tapi bayangnya janganlah pudar Sebab itu senyum terpancar Bolehlah awan kelabu Tapi hadirnya janganlah semu Sebab itu hilangkan sendu Bolehlah langit gerimis Tapi waktu bersama janganlah habis Sebab itu redakan tangis Tapi, Meski di langit yang sama, Aku siang sedang engkau malam Hanya berjumpa Kala fajar bangun di ufuk timur Dan men(t)ari pulang ke peraduan senja Nisa Apipah Suralaya Banten, 12 Desember 2015 8.30 AM

Jembatan Merah

Hingga langkah kaki tiba disini Belum kusadari Di keramaian Minggu pagi Belum kucari Teduh jalan dipayungi dedaunan Terucap sapa tak dimengerti Hingga tiba di jembatan merah Bayangnya dalam genggaman Salam kenal yang tak perlu Lama di langit yang sama tapi tak bertemu Dia tahu tak menyapa Aku tak peka Lalu tiba-tiba, Aku berharap kita selalu di langit yang sama, lagi Nisa Apipah Bogor, 07 Desember 2015